
Setiap tahun jumlah mualaf alias non-muslim yang mengucap syahadat sebagai tanda masuk Islam terus bertambah. Fenomena ini semakin menguat saat Bulan Ramadhan. Mereka rata-rata berikrar pada hari Jumat.
SALAH satu bukti banyaknya non-muslim memeluk agama Islam bisa dilihat di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya. Selama Ramadhan 1444 H/2024 M lalu, misalnya, puluhan warga non-Islam berikrar syahadat di masjid tersebut. Jumlah ini meningkat pada Ramadhan 2025. Namun, demikian, pasca Ramadhan tahun ini, masih ada sejumlah orang berikrar masuk Islam.
Seperti ikrar mualaf pada Jumat 15 Agustus 2025 ba’da Sholat Jumat bertempat di Ruang Utama Masjid Nasional Al Akbar Surabaya. Tampak berikrar masuk agama Islam adalah Kiki Karina. Pembacaan ikrar dua kalimah syahadat yang dilakukan Kiki dibimbing oleh Imam Sholat Jumat KH Abdul Hamid Syarifudin. “Semoga selalu diberi oleh Allah keteguhan iman Islam,” katanya.
Humas Masjid Al Akbar Surabaya, Helmy M. Noor, mengatakan, ikrar mualaf tahun ini lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan di awal Ramadhan sudah ada 20 orang yang mengikrarkan diri menjadi muslim. Pada Ramadhan 2024, sebanyak 24 orang masuk Islam.
“Awal Ramadhan ada 20 orang. Lalu yang mendaftar di atas 30 orang lebih dan rata- rata memilih ikrar mualaf di hari Jumat,” kata Helmy.
Salah satu mualaf bernama Rosari. Dia mengaku masuk Islam setelah melihat kawannya yang bisa hidup tenang sesudah memeluk agama Islam. Rosari yang berasal dari Manado ini saat mengikuti ikrar memeluk Islam tak kuasa menahan air mata. Bahkan dia mengaku sudah mulai belajar dan mencari apa itu Islam sejak akhir 2023.
“Awalnya belajar dari teman ternyata lama kelamaan nyaman dengan agama Islam. Saya belum pernah menemukan pemahaman semacam ini di agama saya sebelumnya,” tutur Rosari.
Lebih lanjut dia menjelaskan, kawannya tersebut banyak memberikan pemahaman mengenai Allah dan Islam. “Ya saya tanya ke kakak senior saya di kedinasan kok bisa setenang itu dalam bersikap. Akhirnya saya dijelaskan dan diberikan pemahaman banyak untuk mengenal Allah dan akhirnya saya tertarik,” jelasnya.
Ida Suliyati juga salah satu mualaf yang mengucap ikrar syahadat di Masjid Al-Akbar Surabaya.Warga Jombang itu mengaku awal tertarik pada Islam karena mendapat hidayah saat bekerja di tempat majikannya sebagai pembantu rumah tangga. Sang majikan bernama Habibi selalu menayangkan siaran langsung dari Makkah tentang ritual Islam di depan Kakbah, setiap hari setelah Subuh.
“Itu (tayangan TV) membuat saya tersentuh. Hampir setiap pagi saya menyaksikan siaran langsung dari Masjidil Haram yang banyak orang melakukan ibadah, sehingga hati saya bergejolak,” ujar Ida.
Ida pun mengungkapkan ketertarikannya pada Islam ke istri majikannya. Ida juga telah memantapkan hati menjadi mualaf.
“Saya kagum ketika melihat suasana di Makkah dan Madinah, saya juga sering mendengarkan shalawat, sehingga saya memutuskan untuk masuk Islam,” ucap Ida.
Selain warga Indonesia, kata Helmy, banyak mualaf merupakan warga negara asing (WNA). Namun Helmy mengaku pihaknya tidak boleh menyebarkan data lengkap dari para mualaf tersebut.
Helmy lalu menjelaskan mekanisme yang perlu dilewati untuk calon mualaf yang hendak berikrar di Masjid Al Akbar. Pertama, mengisi formulir yang disediakan Masjid Al Akbar Surabaya. Kedua, mengumpulkan fotocopy KTP, KK, dan KTP dari dua orang saksi. Ketiga, khusus bagi mualaf laki-laki, harus sudah dikhitan. Keempat, bersedia mengikuti pembinaan sebelum dan setelah ikrar Syahadat.
Helmy pun memastikan, tidak ada pungutan biaya bagi mereka yang berikrar masuk Islam di Masjid Al Akbar Surabaya. Terkait proses pembinaan, kata Helmy, dilaksanakan sebanyak empat kali. Satu kali sebelum ikrar, dan tiga kali sisanya dilaksanakan setelah ikrar Syahadat.
“Pembinaan satu kali sebelum ikrar dan tiga kali setelah ikrar,” ujarnya.
Sampai saat ini sudah ribuan orang berikrar menjadi mualaf di masjid tersebut.Mereka mengucapkan syahadat karena didasari berbagai motivasi, ada yang memang ingin mendalami Islam dan ada yang masuk Islam untuk tujuan pernikahan.
Kasie Ibadah dan Dakwah Masjid Al Akbar Surabaya, Ustadz Abd. Choliq Idris mengatakan, sejak 2005 lalu, setidaknya sudah ada 2.500 orang yang menjadi mualaf di Masjid Al Akbar Surabaya. “Sejauh ini sudah ada sekitar 2500-an lebih sejak saya menangani tahun 2005. Tapi sebelumnya saat masjid ini baru diresmikan sudah ada, termasuk Cristian Gonzales itu di Al Akbar Islamnya,” ujar Ustadz Choliq.
Cristian Gonzales merupakan pemain sepakbola ternama di Indonesia. Mantan pemain Timnas ini menjadi mualaf di Masjid Al Akbar pada 2003. Ketertarikannya pada Islam bermula dari mendengar lantunan adzan yang seperti orang bernyanyi.
Ribuan orang yang masuk Islam tersebut sebelumnya ada yang beragama Kristen, Hindu, dan bahkan ada yang beragama agnostik. Namun, menurut Ustadz Choliq, paling banyak berasal dari agama Kristen. Sedangkan motivasinya kebanyakan untuk melangsungkan pernikahan.
“Cuma rata-rata motivasinya untuk perkawinan. Itu pun berseling, ada yang karena ikut calon suami yang Muslim dan ada juga yang ikut calon istri yang Muslimah,” kata Ustadz Cholil.
Kabid Imarah Masjid Al Akbar, Prof Muhibbin Zuhri menjelaskan, motivasi ribuan orang yang masuk Islam di Masjid Al Akbar tersebut bervariasi. “Di antaranya memang paling banyak mereka ingin mempelajari Islam, ada yang memang karena akademik atau banyak membaca buku, ada yang belajar Islam karena tertarik terhadap kawannya atau lingkungan sekitarnya,” jelas Prof Muhibbin.
“Ada nilai-nilai baik yang dia rasa itu merupakan sumber dari ajaran yang baik, sehingga dia belajar Islam. Yang demikian itu banyak,” ujar dia.
Selain itu, tambah dia, ada juga yang menjadi mualaf pada saat menjelang pernikahan dengan seorang muslimah. “Tapi, supaya kita memiliki tanggung jawab yang semestinya tentang mualaf ini, supaya tidak hanya formalitas dalam memasuki Islam, maka di situ ada pembinaan yang harus diikuti oleh mereka,” kata Muhibbin.
Mualaf Indonesia
Lalu berapa banyak jumlah mualaf di Indonesia? Saat ini belum ada data terbaru tentang jumlah mualaf di Indonesia. Data Mualaf Center Indonesia (MCI) mencatat, sejak 2003 hingga 2019, terdapat sekitar 58.000 orang yang memeluk agama Islam. Jumlah ini disebut terus meningkat setiap tahunnya.
Berdasarkan catatan Goodstats,pada 2024 Mualaf Center Medan mencatat sebanyak 155 orang mengikrarkan dua kalimat syahadat untuk memeluk Islam. Angka ini mengalami peningkatan sebesar 20% dibandingkan tahun 2023 hanya 125 mualaf.
Dari total 155 orang, 73 orang berjenis kelamin laki-laki dan 82 perempuan. Sebagian besar berasal dari agama Kristen Protestan 119 orang, diikuti oleh Buddha 17 orang, Katolik 14 orang, Hindu 3 orang, dan 2 orang tidak memiliki agama. Selain warga lokal ada juga dua warga negara asing dari Afrika Selatan dan Amerika Serikat.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Karawang, melaporkan bahwa sepanjang tahun 2023 hingga 2024, sebanyak 40 orang warga nonmuslim masuk Islam dan menjadi mualaf. Dengan 30 orang laki-laki dan 10 orang perempuan.
Sebagian besar mualaf berada dalam rentang usia 40-60 tahun, tetapi masih ada yang berstatus pelajar SMP dan SMA. Terdapat WNA yang berasal dari Tiongkok, Korea, Thailand, Jepang, dan Hongkong.
Berdasarkan data di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Berau, hingga Juli 2024 tercatat 13 orang menjadi mualaf. Secara keseluruhan, setiap tahun terdapat puluhan orang masuk Islam. Pada 2023, tercatat 20 orang bersyahadat di kabupaten ini.
Data di Masjid Agung An-Nur, Pekanbaru, Riau, tercatat ada 97 orang masuk Islam di tahun 2024 dengan 51 orang merupakan perempuan dan 46 laki-laki. Menurut Sekretaris Mualaf Center Masjid Agung An-Nur, Ustazah Afra Khanza, para mualaf yang telah melakukan syahadat tidak dibiarkan begitu saja, mereka mendapatkan bimbingan melalui program belajar di tahap awal, dengan baca tulis Al-Quran, fiqih ibadah, dan tauhid secara rutin setiap pekan.
Dalam periode 2023-2024, Kalimantan Tengah mencatat 3.304 orang masuk Islam. Data ini dihimpun dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) di berbagai kabupaten/kota, menunjukkan bahwa kabupaten Sukamara dan Barito Timur dengan jumlah tertinggi. (Gatot Susanto)

