ZIF Ke-5 Digelar di Surabaya 15-17 Juli 2019

SURABAYA (chenghoo.co): Indonesia mendapat kehormatan untuk menggelar Zhenghee International Forum (ZIF) Ke-5. Surabaya menjadi tempat penyelenggaraan kongres yang akan digelar 15-17 Juli 2019 di kampus UINSA Surabaya. Acara ini akan dihadiri 40 delegasi dunia, seperti dari Amerika Serikat (AS), Eropa Timur, Asia Tengah, Asia Tenggara hingga sejumlah Negara Timur Tengah.
Sabtu (19/1/2019) hingga Minggu (20/1/209) Prof. Haiyun Ma, President Zhenghee International Peace Foundation (ZIPF) dari Amerika Serikat mengecek langsung persiapan kongres tersebut. Sabtu malam bertempat di Bumi Hyatt Surabaya Prof Haiyun Ma dijamu oleh Bambang Sujanto, pendiri dan penggagas Masjid Cheng Hoo Surabaya. Acara ini dihadiri sejumlah tokoh dari Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia (YHMCHI) seperti H.A. Nurawi, Herman Halim, utusan dari NU, Muhammadiyah hingga sejumlah perguruan tinggi UINSA Surabaya dan Universitas Muhammadiyah Malang dan Universitas Ma Chung.
Minggu siang tadi, diadakan rapat perdana untuk mempersiapkan acara tersebut dipimpin langsung oleh Prof Haiyun Ma di Kampus UINSA Surabaya yang dihadiri 18 peserta. Diantaranya, selain Prof Ma juga hadir Prof Abd Ala (NU), Prof Syafiq Mughni (Muhammadiyah), Prof. Surya dan Prof. Philip dari Universitas Ma chung, Prof Syamsul Arifin dari UMM, Bambang Sujanto dan H.A. Nurawi dari YHMCHI serta undangan lainnya.
Prof Haiyun Ma dalam sambutannya mengatakan, penyelenggaraan ZIF ke-5 di Surabaya ini tidak terlepas dari peran Bambang Sujanto. Beliau mengatakan siap ZIF di Indonesia digelar di Surabaya. Peran Bapak Bambang dalam pelaksanaan ini samngat sentra. Beliau aktif mengikuti ZIF di sejumlah Negara. Sekali lagi saya memberikan apresiasi kepada Bapak Bambang, kata Prof Ma.
Dipilihnya Indonesia sebagai tempat ZIF ke-5, juga dikarena Indonesia merupakan Negara dengan penduduk terbesar pemeluk Islam-nya. Islam di Indonesia moderat. Ini model yang sudah barang tentu diterima oleh masyarakat dunia. Kami juga sudah menyepakati tema kongres yakni Indonesia and China: Shared Value of Religion, Society, and Culture, kata Prof Ma.
Sementara itu Organizing Committee (OC) Kongres, Prof Akh. Muzakki mengatakan, ini merupakan rapat perdana yang telah berhasil menyusun rumusan inti. Teknisnya nanti akan diadakan rapat lanjutan. Diharapkan April 2019 persoalan teknis sudah tuntas. Selain dihadiri 40 delegasi dunia, sebanyak 30 ilmuan dunia akan memberikan orasi ilmiah, dari Indonesia juga 30 ilmuan, katanya. H. Erfandi Putra

Tags: