TPGP Helat Seminar Nasional Pengajuan Gelar Pahlawan Pendiri Laskar Sabilillah

Chenghoo.co – Periode perjuangan kemerdekaan menjadi bagian penting dalam sejarah bangsa Indonesia, terutama bagi kalangan pesantren. Sebab, pesantren menjadi bagian dari simpul-simpul perlawanan terhadap segala bentuk penjajahan yang ada.

Hal itu terbukti dengan munculnya fatwa resolusi jihad oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Dimana fatwa tersebut  diyakini menjadi preseden terjadinya rentetan peristiwa monumental lain seperti peristiwa 10 November 1945,  agresi militer II pada akhir tahun 1948 hingga pertengahan 1949.

Menurut sejarah nasional, Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) adalah sebuah badan yang dibentuk pemerintah Jepang pada 1 Maret 1945. Tujuan dari pembentukan BPUPKI ini untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. BPUPKI beranggotakan 62 orang yang dipimpin Radjiman Widoyoningrat, serta dibantu dua wakil ketua, yaitu Ichibangase Yosio (orang Jepang) dan Raden Pandji Soeroso.

Dalam sejarah perjuangan tersebut, baik pada saat sidang BPUPKI-PPKI hingga agresi militer I dan II, perlu dicatat dalam sejarah nama seorang ulama yang berasal dari Singosari Malang yakni KH Masjkur.

Bersama kiai-kiai lain, KH Masjkur menjadi komando laskar kiai yang bernama Laskar Sabilillah. Sebagaimana yang tercatat dalam sejarah bangsa ini, Laskar Sabililillah beserta laskar-laskar lain seperti Laskar Hizbullah dan Laskar Rakyat turut memberikan sumbangsih besar dalam perjuangan kemerdekaan bangsa ini.

Dengan berlandaskan napak tilas sejarah, KH Masjkur sangat berjasa guna merebut kemerdekaan dari kalangan penjajajah. Sekelompok elemen masyarakat yang tergabung pada Tim Pengusulan Gelar Pahlawan (TPGP) kepada KH Masjkur itu mengadakan seminar nasional untuk finalisasi draf naskah akademik  dengan tema Perjuangan KH Masjkur : Sebelum dan Sesudah Kemerdekaan’.

Menurut Ketua TPGP, Kasuwi Saiban, proses yang sudah dilalui sebelumnya sudah melewati beberapa tahapan. Diantaranya, mempersiapkan naskah dan dokumen-dokumen tentang KH Masjkur guna menjadi bekal untuk diajukan ke Pemerintah Pusat.

“Tim terbentuk di Malang sekitar tanggal 19 Oktober lalu. Pada tiap minggunya di bulan Oktober, tim selalu berdiskusi sekaligus menyusun draf dokumen rekam jejak KH Masjkur,” jelasnya.

Kasuwi menambahkan, sesungguhnya proses pengajuan gelar pahlawan tersebut sudah direncanakan sejak tahun 1995. Namun dengan adanya pelbagai hal, maka tidak ada tindakan lanjut mengenai proses pengajuan ini.

“Sejak tahun 1995, tim sudah mengusulkan permohonan ini. Namun ada pelbagai kendala maka tidak dilanjutkan. Padahal, saat itu surat usulan ke Kemensos yang sebelumnya bernama Depsos sudah dikirimkan. Namun baru tahun ini prosesnya terrealisasi,” tambahnya.

Menteri Agama RI era 1999-2001 KH Tholchah Hasan juga memandang bahwa gelar Pahlawan sudah sangat sepantasnya diberikan kepada KH Masjkur. Menurut Kiai sepuh tersebut, sosok KH Masjkur bisa dibilang sebagai salah satu guru bangsa di Negeri ini.

Tenaga, pikiran, serta perjuangannya dalam membela negara, tidak bisa dianggap sebelah mata. Bahkan tak terhitung nominal uang yang sudah beliau kucurkan demi membangun kemajuan NKRI.

“Saya rasa sudah selayaknya KH Masjkur mendapatkan apresiasi gelar kepahlawanan. Dan yang dilakukan TPGP untuk memperjuangkan demi mendapatkan gelar pahlawan sudah sangat tepat dan harus segera terealisasi,” terangnya.

Terkait sejarah perjuangan KH Masjkur, KH Hasan mengatakan bahwa anak-anak Malang serta pemerintah cukup mempunyai dokumen-dokumen tersebut. Kiai Masjkur merupakan sosok yang sangat patut diteladani. Tamunya banyak dari semua kalangan dan muridnyapun tak sedikit, bahkan beberapa dari muridnya menjadi orang penting di negeri ini.

(Amm,Sur)

Tags: