Jejak Islam di Istana Bakhchisarai

Chenghoo.co – Kota Bakhchysarai berada 30 kilometer di sebelah barat Simferopol, ibu kota Republik Krimea memang tak lagi semasyhur dulu. Pada masa keemasannya, kota ini pernah menjadi pusat pemerintahan Kekhanan Krimea, salah satu negara terkuat di dunia (vasal Kesultanan Utsmaniyah) pada abad XV hingga XVIII.

Meski demikian, kota ini masih menyimpan peninggalan-peninggalan berharga, termasuk jejak Islam di Istana Bakhchisarai. Bangunan yang menjadi salah satu dari banyak contoh arsitektur peninggalan Tatar Krimea yang kental dengan budaya Islam.

Jika ditelusuri, sejarah tempat itu berasal dari sekitar 500 tahun yang lalu. Saat itu, Semenanjung Crimea masih menjadi wilayah pengikut Kesultanan Utsmaniyah.

Berikut ini enam hal yang dapat ditelusuri dari jejak Islam di Crimea yang dikutip dari RBTH Indonesia.

1. Bangunan Unik

Saat ini bangunan tersebut adalah monumen unik yang menyimbolkan arsitektur Tatar Crimea. Istana itu didirikan pada pertengahan Abad ke-16. Struktur paling pertama di wilayah istana, yaitu bak mandi Sarah Guzel dan Masjid Big Khan, dibuat tahun 1530. Sebuah pondok khusus dibangun untuk para penguasa dengan dekorasi kaca berwarna dan ubin Iznik. Menariknya, masjid tersebut masih beroperasi saat ini.

“Istana Bakhchisarai bukan hanya tempat tinggal untuk para Khan (sebutan raja untuk beberapa negara Islam),” kata Anna Polkanova selaku Wakil Direktur Museum Peninggalan Bakhchisarai.

“Ada juga lima tempat lain yang disebut istana-istana Kecil. Namun tempat utama untuk Raja Crimea adalah Istana Bakhchisarai yang dibangun atas perintah Sahib I Giray.”

 

2. Pusat Kegiatan Politik Khan

Selama lebih dari 200 tahun, istana tersebut menjadi pusat kegiatan politik Kekhanan Crimea. Setiap pemimpin baru membangun bangunan baru, mengabadikan nama, dan membentuk gedung yang kita dapat lihat hari ini.

Banyaknya air mancur dan taman mengingatkan kita pada nama istana: dalam bahasa Tatar Crimea, bakhchisarai berarti istana taman. Perkebunannya, tempat di mana orang dapat beristirahat dan menyejukkan diri, merepresentasikan ide “surga dunia”.

3. Arsitektur Abad Ke-16 yang Unik dengan Kaca Berwarna

“Istana dibangun dengan gaya arsitektur khas Crimea saat itu. Selain markas pemerintahan, ia memuat apartemen pribadi Khan dan keluarganya, perpustakaan, masjid, dan bangunan lain,” jelas Polkanova.

Balai Divan adalah salah satu bangunan paling impresif di istana. Di sana, isu-isu paling penting di Kekhanan dibahas.

Khan akan duduk di singgasananya, yang diselimuti kain oranye dan dengan dekorasi sulaman emas. Orang-orang kepercayaan Khan diizinkan untuk duduk di sofa rendah, dan para penasihatnya duduk di kursi yang menempel dinding.

Balai tersebut saat ini masih memiliki kaca berwarna dan atap berukiran khas Abad ke-16. Arsitek ternama Tatar Crimea, Omer, juga dulu bekerja di istana. Hasil lukisannya masih bisa dilihat di Masjid Big Khan dan Gazebo Musim Panas. Di abad ke-18, Omer membangun kembali gazebo tersebut, dengan menambah satu lantai lagi untuk Peti Emas.

4. Tentara Rusia Membakarnya pada Abad ke-18

Pada 1736, saat Perang Rusia-Turki, Istana Bakhchisarai direbut oleh tentara Rusia. “Di bawah komando Marsekal Lapangan Minikh, tentara Rusia memasuki Crimea untuk pertama kali,” kata Gennady Marshtupa selaku peneliti senior di Museum Sejarah Moskow.

“Minikh dan tentaranya datang ke Bakhchisarai dan membakar istana. Ia kemudian mengirim surat resmi untuk Permaisuri Catherine II (Katarina yang Agung) mengenai ‘kemenangan penuhnya’.” Setelah itu, istana kembali dibangun.

5. Dipuja oleh Penyair Alexander Pushkin

Salah satu monumen paling terkenal di wilayah istana adalah Air Mancur Tangisan. Menurut legenda, Qirim Giray Khan memerintahkan untuk membangun air mancur tersebut untuk mengenang kekasihnya Dilyara Bikech dan menempatkan di makamnya.

Tetesan air mancur menyimbolkan tangisan kesedihan dan mangkuknya mewakili kesedihan di hati. Pada 1787, tidak lama sebelum kunjungan Catherine yang Agung, air mancur tersebut dipindahkan ke lapangan dengan bangunan serupa lainnya.

Pada 1820, penyair Rusia Alexander Pushkin mengunjungi Bakhchisarai. Beberapa tahun kemudian ia menulis puisi berjudul “The Bakhchisarai Fountain” (air mancur Bakhchisarai).

“Air mancur cinta, air mancur yang hidup! Aku membawakanmu dua bunga sebagai hadiah…” Hingga saat ini, sesuai tradisi, setiap hari dua bunga diletakkan di air mancur tersebut.”

6. Tsar-tsar Rusia Sempat Tinggal di Sana

Tsar atau penguasa monarki Rusia sering datang ke Bakhchisarai. Catherine yang Agung menghabiskan tiga hari di sini.

Sebagai tanda kunjungannya, sebuah rambu jalan diciptakan, disebut “Perjalanan Catherine”, menandakan perjalanan sang permaisuri dari Saint Petersburg ke Crimea.

Selanjutnya Alexander I, Alexander III, dan pada 1912, Nicholas II datang mengunjungi istana. Monumen peringatan untuk para tsar Rusia masih berdiri hingga hari ini.

Pada 1913, saat peringatan 300 tahun Wangsa Romanov, penduduk Bakhchisarai membangun sebuah air mancur, yang menjadi awal dibentuknya monumen-monumen serupa untuk peringatan tersebut. (gus)

Rate this article!
Tags: