Banyak WNI Ziarah ke Makam Saad bin Abi Waqqash di Guangzhou

Makam Saad bin Abi Waqas

Makam Saad bin Abi Waqqash di Guangzhou, China, kian banyak dikunjungi peziarah asal Indonesia. Saad bin Abi Waqqash merupakan sahabat sekaligus paman Nabi Muhammad SAW.

Biasanya, warga negara Indonesia yang berziarah ke makam Saad bin Abi Waqqash itu melalui perjalanan darat dari Hong Kong. “Ada saja orang Indonesia yang datang, tapi jumlahnya memang tidak besar,” kata Konsul Jenderal RI di Guangzhou, Ratu Silvy Gayatri.

Untuk menuju Guangzhou yang berada di wilayah selatan daratan Tiongkok dari Hong Kong cukup ditempuh dalam waktu sekitar dua jam, baik menggunakan bus maupun kereta api. Hampir semua pelajar asal Indonesia yang beragama Islam sudah mafhum dengan sejarah penyebar Islam pertama di daratan Tiongkok itu.

Oleh sebab itu, KJRI menyambut positif kebijakan Pemerintah Kota Guangzhou yang memperluas kompleks makam Saad yang dikenal oleh masyarakat sekitar dengan nama “Xianxian Qingzhenshi” itu. Pemkot Guangzhou juga menganggap Indonesia sebagai mitra strategis, terutama dalam hubungan perdagangan dan perindustrian.

Menurut catatan resmi dari Dinasti Tang yang berkuasa pada 618-905 M dan berdasarkan catatan serupa dalam buku A Brief Study of the Introduction of Islam to China karya Chen Yuen, Islam pertama kali datang ke Cina sekitar tahun 30 H atau 651 M.

Disebutkan bahwa Islam masuk ke China melalui utusan Khalifah Ustman bin Affan, yang memerintah selama 12 tahun atau pada periode 23-35 H / 644-656 M.

Sementara menurut catatan Lui Tschih, penulis Muslim China pada abad ke 18 dalam karyanya Chee Chea Sheehuzoo (Perihal Kehidupan Nabi), Islam dibawa ke China oleh rombongan yang dipimpin Saad bin Abi Waqqash.

Sebagian catatan lagi menyebutkan, Islam pertama kali datang ke China dibawa oleh panglima besar Islam, Saad bin Abi Waqqash, bersama sahabat lainnya pada tahun 616 M. Catatan tersebut menyebutkan bahwa Saad bin Abi Waqqash dan tiga sahabat lainnya datang ke China dari Abessinia atau yang sekarang dikenal dengan Ethiopia.

Setelah kunjungan pertamanya. Saad kemudian kembali ke Arab. Dia kembali lagi ke China 21 tahun kemudian atau pada masa pemerintahan Usman bin Affan, dan datang dengan membawa salinan Al Qur’an. Usman pada masa kekhalifahannya memang menyalin Al Qur’an dan menyebarkan ke berbagai tempat, demi menjaga kemurnian kitab suci ini.

Pada kedatangannya kedua di tahun 650M, Saad bin Abi Waqqash kembali ke China dengan berlayar melalui Samudera Hindia ke Laut China menuju pelabuhan laut di Guangzhou. Kemudian ia berlayar ke Chang’an atau kini dikenal dengan nama Xi’an melalui rute yang kemudian dikenal sebagai Jalur Sutera.

Bersama para sahabat, Saad datang dengan membawa hadiah dan diterima dengan hangat oleh kaisar Dinasti Tang, Kao-Tsung (650-683). Kaisar mengizinkan Saad bin Abi Waqqash dan para sahabat untuk mengajarkan Islam kepada masyarakat di Guangzhou.

Oleh orang China, Islam disebut sebagai Yisilan Jiao atau agama yang murni. Sementara Makkah disebut sebagai tempat kelahiran Buddha Ma-hia-wu (atau Rasulullah Muhammad SAW). Saad bin Abi Waqqash kemudian menetap di Guangzhou dan dia mendirikan Masjid Huaisheng yang menjadi salah satu tonggak sejarah Islam paling berharga di China.(gus)

Tags: