Urunan Membangun Masjid, Tawarkan Amal Cuci Baju

Ramadhan di Belanda

 

Komunitas muslim Indonesia di Utrecht berbuka puasa bersama

WNI muslim di Belanda menyambut gembira Ramadhan . Misalnya komunitas muslim Indonesia di Utrecht dan Amsterdam. Mereka sangat khusyuk menjalankan ibadah meski harus puasa Ramadhan selama 18 jam. Mereka juga terus berikhtiar membangun masjid Indonesia di sana sebab ibadah selama ini dilakukan di musala yang semakin sempit.

Ristiyanti Handayani, WNI yang sudah sejak tahun 2011 tinggal di Belanda, Rabu (7/6/2017), mengisahkan suka dukanya tinggal di kota dengan muslim minoritas tersebut. “Kami para perantau asal Indonesia menetap di Kota Utrecht, Belanda, yang dianggap sebagai kota keuskupan lama Belanda dengan Domkerk (Menara Gereja) sebagai landmark-nya,” katanya.

Kota ini, imbuh Ristiyanti, berpenduduk sekitar 400.000 orang dengan penduduk muslim berjumlah sekitar 13.000 dari berbagai negara, seperti muslim Turki, Maroko, Indonesia, Suriname, Somalia, India, Pakistan, dan Mesir.

Muslim di Utrecht pada Ramadhan tahun ini mesti berpuasa selama sekitar 18 jam lamanya dengan cuaca musim panas yang cukup gerah. Namun demikian, kata dia, komunitas muslim Indonesia tetap berusaha memenuhi jadwal untuk berkumpul di bulan Ramadhan guna saling berbagi. “Selama bulan Ramadhan, setiap akhir pekan, kami yang tergabung dalam perkumpulan SGB (Stichting Generasi Baru) yang diketuai oleh Bapak Supardi Hasanudin, berkumpul dan berbuka bersama (Iftar) dilanjut salat Maghrib, Isya’, dan tarawih berjamaah,” kata dia.

Acara buka puasa bersama komunitas muslim yang tergabung dalam SGB, lanjutnya, adalah acara rutin yang diselenggarakan setiap tahun. Tujuannya, untuk menjalin tali silaturahmi dan mempererat semangat persaudaraan, bukan hanya bagi komunitas muslim Indonesia, tetapi juga buat muslim Belanda yang tergabung dalam kelompok pengajian Bina Dakwah. “Senantiasa ada kisah indah dan unik yang sulit kami lupakan ketika kami meretas jejak perjalanan ukhuwah lintas etnis, budaya, dan bahasa,” kata Ristiyanti yang bersuamikan seorang WN Belanda ini.

Salah satunya pengalaman tak terlupakan saat iftar puasa pada Sabtu 3 Juni 2017 lalu. Saat itu, seorang remaja 16 tahun bernama Dimas, putra pasangan ayah WN Belanda dan ibu WN Indonesia, telah memilih jalan spiritualnya dalam Islam. Dimas pun mengucapkan dua kalimat syahadat yang dibimbing oleh ustaz Bari Muchtar. “Prosesi tersebut membuat kami larut dalam khidmat dan rasa haru serta ucap syukur atas keagungan kuasa Allah SWT,” tuturnya.

Komunitas muslim Indonesia kini juga sedang berikhtiar untuk mendirikan masjid Indonesia di Utrecht. Mimpi mendirikan masjid ini lantaran musala muslim komunitas Indonesia makin tak muat menampung jamaah. Musala terasa semakin sempit. “Saat ini tempat kami melaksanakan serangkaian kegiatan adalah sebuah musala yang sebelumnya digunakan sebagai minimarket. Tapi karena jumlah jamaah semakin bertambah dari waktu ke waktu, kami sekarang sedang berupaya dengan jalan bergotong royong secara moril dan material lewat penggalangan donasi baik dalam bentuk infak, sedekah, maupun wakaf guna mewujudkan impian kami semua akan sebuah masjid komunitas muslim Indonesia di Utrecht,” ungkap perempuan yang menetap di Utrecht sejak tahun 2014 ini.

Selain itu, komunitas muslim Indonesia di Utrecht juga menggalang dana keroyokan di situs kitabisa.com demi bisa membangun masjid tersebut. “Semoga niat kami memiliki mesjid sebagai tempat bagi kami dan anak-anak kami belajar dan memahami ajaran Qurani mendapatkan ridho dari Allah SWT,” tuturnya. Sampai Rabu 7 Juni 2017 dana untuk masjid ini baru terkumpul Rp. 344.368.992 dari kebutuhan Rp 3.200.000.000.

Stichting Generasi Baru (SGB) sendiri berdiri pada tahun 2008. Sebuah organisasi non profit yang bertujuan menjadi wadah kreativitas dan aktualisasi masyarakat muslim Indonesia di Belanda, berperan aktif dalam akulturasi-integrasi, serta penghubung silaturahmi. Utrecht merupakan salah satu kota multikultural terbesar di Belanda setelah Amsterdam, Rotterdam, dan Den Haag.

Sejak tahun 2008, lembaga ini sudah Pendidikan Al Quran untuk anak-anak Indonesia di Belanda, pengajian rutin, kuliah umum, aktif memperkenalkan budaya nusantara dan pemberdayaan masyarakat Indonesia yang lain. “Dengan ini, kami mengharapkan para dermawan untuk turut serta menyumbangkan dananya untuk membantu membangun masjid ini,” katanya.

Mengusahakan sebuah tempat beribadah bagi muslim Indonesia dan berkumpulnya para pelajar, tidaklah mudah. Sejak berdirinya SGB menyewa tempat sementara di lapangan olah raga, yang harus mendorong warga bekerja keras mempersiapkan karpet, pengeras suara, dan berbagai peralatan. Hingga akhirnya pada tahun 2009, SGB menyewa tempat di jalan Maria van Hogarijedreef, tetapi setahun kemudian tempat itu dirobohkan oleh pemilik gedung.

SGB lalu menyewa sebuah tempat di jalan De Bazelstraat Utrecht sampai dengan hari ini. “Setiap bulannya kami membayar €1.200 (sekitar Rp 16,8 juta) untuk biaya sewa dan listrik. Dana tersebut dikumpulkan dari sumbangan masyarakat Utrecht dan sekitarnya,” katanya.

Di tempat itulah anak-anak Indonesia belajar mengaji dan warga muslim mengagungkan nama Allah. Selain itu, kajian-kajian keislaman dan diskusi mahasiswa berkumandang, memberikan pernyataan sikap, dan kritik konstruktif pada bangsanya. Di tempat ini pula acapkali sahabat muslim yang berasal dari negara lain—Malaysia, Singapura, Pakistan, Suriname, Maroko, Turki, dst— ikut beribadah bersama dan menikmati hidangan Indonesia yang tersedia.

 

Berkembang Pesat

Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa (PPME) Al Ikhlash di Amsterdam juga melakukan pembelian gedung masjid. Selain difungsikan sebagai masjid, gedung itu akan menjadi pusat kegiatan dakwah PPME Al Ikhlash Amsterdam. “Kendala utama yang dihadapi masyarakat muslim Indonesia di Amsterdam adalah ketiadaan fasilitas gedung yang representatif untuk masjid dan pusat kegiatan dakwah,” kata Hansyah Iskandar Putera, Ketua Umum PPME Al Ikhlash Amsterdam, dilansir dari situs resmi PPME Al Ikhlash Amsterdam.

Dia menuturkan, PPME Al Ikhlash selama ini menyewa sebuah gedung dari organisasi Islam Maroko untuk pelaksanaan berbagai kegiatan. Tak jarang, mereka harus berpindah-pindah dari satu gedung ke gedung lain, bahkan satu rumah ke rumah lain. Perkembangan umat Islam di Amsterdam yang semakin pesat mendorong pengurus PPME Al Ikhlash mencari gedung masjid sendiri.

Setelah upaya pencarian satu tahun terakhir, mereka menemukan satu gedung yang cukup representatif. Gedung tersebut beralamat di Jan van Gentstraat 140, 1171 GN Badhoevedorp di atas total lahan seluas 375 meter persegi. “Kami mengharapkan bantuan dari berbagai pihak untuk menyumbang dana guna memperlancar proses pembayaran,” lanjutnya.

Ia menambahkan, untuk pembelian gedung tersebut PPME Al Ikhlash membutuhkan dana sebesar 395 ribu euro (Rp 5,8 miliar). Sementara, dana yang terkumpul saat ini baru berjumlah 100 ribu euro (Rp 1,4 miliar). Sebagai perpanjangan dari PPME Nederland, PPME Al Ikhlash Amsterdam didirikan pada tahun 2006. Secara rutin, mereka memfasilitasi kebutuhan ibadah umat Islam di Amsterdam, termasuk perayaan hari raya, sholat Jumat, pengajian agama, dan pembinaan untuk mualaf.

Tradisi Belanda

Sementara Khumaini Rosadi, dari Persatuan Pemuda Muslim Eropa al Ikhlash, membagi pengalaman berpuasa di Amsterdam. Dia cerita soal tradisi sopan santun orang Belanda. Misalnya saat makan bareng, ternyata lebih sopan buang angin daripada sendawa. Orang Belanda akan pergi jika ada orang lain bersendawa ketika makan.

“Tetapi jika kentut mereka malah tidak mempermasalahkannya. Malah kalau bisa, berbalas kentut. Inilah salah satu budaya orang lain yang memang perlu juga kita ketahui orang Indonesia,” katanya di Amsterdam – tepatnya di Badhoevedorp.

Tinggal di kota ini baginya mengasyikkan juga. Ada danau di Badhoevedorp dengan airnya yang bersih, dihiasi dengan mangrove dan belibis yang berenang mencari makan. Khumaini lalu menceritakan soal temannya orang keturunan Padang yang ikut ayahnya bertugas di Belanda. Namanya Mukhlis. Pria ini mengaku setiap hari bisa berlebaran di Belanda. Sebab hampir setiap hari ada saja jamaah pengajian ibu-ibu atau bapak-bapak yang memberikan hadiah untuknya. Mulai baju, sorban, peci, sampai pakaian dalam. Ada juga yang sangat memperhatikan kesehatannya karena selama delapan hari di sana dia batuk kering, efek kedinginan, setiap hari ada saja yang memberikan obat, mulai obat batuk cair, vitamin c, paracetamol, kurma ajwa dan kurma medjuol. “Sampai minyak angin,” katanya.

Ada juga yang memperhatikan tentang pakaian yang dia pakai, sampai menyucikan dan menyeterikakannya. Sudah lima orang menawarkan diri untuk mencucikan pakaiannya. “Subhanallah, inilah kebersamaan yang indah, sangat memuliakan tamunya dari Indonesia. Tidak memandang besar atau kecilnya tamu itu. Padahal yang sudah ke sini adalah ustaz-ustaz kelas internasional. Sedangkan saya kelas kecamatan pun mungkin belum pantas,” katanya. (det/rp)

Tags: