Tiongkok di Tengah Percaturan Dunia

Berita Tiongkok bakal menghidupkan jalur sutera modern bertajuk One Belt One Road menghiasi berbagai media di dunia pertengahan Mei lalu. Rencana yang telah diluncurkan hampir 4 tahun lalu ini bertujuan untuk mendorong miliaran dolar Amerika Serikat untuk pembangunan jalur kereta api, jalan, pelabuhan, dan proyek lainnya di Asia, Afrika sampai Eropa.

Berbagai tanggapan dari analis dunia bermunculan dengan berbagai pendapat masing-masing. Pertanyaan selanjutnya, untuk apa Negara Tiongkok negara program tersebut? Mengapa, karena di tengah-tengah perekonomian dunia yang turun, Tiongkok malah menawarkan investasi setidaknya di 60 negara.

Wowww… Invetasi ribuan triliun bahkan mencapai 1 triliun dollar AS dipersiapka untuk itu. CNN Money, Minggu (14/5/2017), malah menulis bahwasanya, langkah tersebut dianggap strategi Tiongkok untuk meningkatkan pengaruhnya terhadap global dalam beberapa tahun terakhir.

Sudah pasti langkah Tiongkok tersebut menimbulkan pro kontra. Terutama negara-negara yang merasa tersaingi. Yang jelas, bagi negara-negara Asean, termasuk Indonesia, Langkah Tiongkok tersebut sudah pasti dianggap positif.

Mengapa? Setidaknya Tiongkok menawarkan investasi di berbagai sektor. Terutama yang berkaitan dengan Jalur Sutra Baru Seperti diketahui, di hadapan para pemimpin dunia, Tiongkok menawarkan beberapa angka yang mengesankan.

Untuk diketahui, negara yang berkumpul di The Belt and Road Forum for International Cooperation (BRF), 14-15 Mei 2017 di Beijing, Tiongkok merupakan 60 persen dari populasi dunia dan menyumbang sekitar sepertiga dari ekonomi dunia.

Pada 2050 negara tersebut diharapkan memberikan kontribusi 80 persen dari pertumbuhan GDP global atau naik 68 persen dari akhir tahun lalu. “Orang Tiongkok telah belajar bahwa cara terbaik untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi adalah membuat lapangan kerja yang baik,” kata Jin-Yong Cai mantan CEO di bagian investasi Bank Dunia.

“Ketika Anda melihat dunia, terutama negara-negara berkembang, hambatan paling penting pertumbuhan ekonomi adalah kurangnya infrastruktur,” tambah dia.

Proyek yang berjalan mencakup ribuan kilometer jalan di Pakistan, bandara di Nepal, rel kereta api antara Tiongkok dan Laos. Perusahaan global seperti GE dan Siemens juga akan memanfaatkan rencana itu disamping perusahaan konstruksi Tiongkok. Meski demikian, inisiatif ini tidak akan nampak dalam waktu dekat. Bahkan sejumlah pengamat mempertanyakan soal efektivitas investasi yang besar itu.

“Akankah acara bulan ini dikenang sebagai tahap selanjutnya dalam globalisasi ekonomi China, atau sebagai gajah putih besar yang meninggalkan sumber daya terbuang ,” kata Presiden Kamar Dagang Uni Eropa di China, Jorge Wuttke.

Yang jelas, angin segar dari Negara Tiongkok ini patutlah kita sambut. Artinya, Indonesia yang selama ini menjadi mitra Tiongkok harus dapat memanfaatkan momentum ini. Guna menciptakan pembangunan di berbagai sektor, khususnya infrastruktur yang saat ini digalakkan oleh pemerintahan Jokowi- JK.

Rate this article!
Tags: