Jokowi Tawarkan Proyek Pelabuhan Hingga Kereta

Jalur KA Bitung-Manado-Gorontalo salah satu proyek yang ditawarkan ke Tiongkok

Pemerintah Indonesia sudah pasti melihat peluang ini sebesar-besarnya. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memastikan, beberapa lokasi yang ditawarkan Presiden

Joko Widodo (Jokowi) pada saat acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Belt and Road Forum Internasional merupakan kawasan yang sudah memiliki kepastian dari aspek perekonomian.

“Ya itu tentu juga melihat kesiapan kita juga, ya kan. Di mana yang ada kita relatif siap. Seperti di Sulawesi, Bitung, Kalimantan Utara ada, jadi yah kita kalau enggak siap gimana mau menawarkan,” kata Darmin di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurut Darmin, kawasan yang ditawarkan Presiden Jokowi kepada Presiden RRT Xi Jinping lokasinya berada di Sumatera Utara, Sulawesi Utara, dan Kalimantan Utara. “Artinya ini sudah punya gambaran apa yang sudah dibangun di situ,” jelasnya.

Seperti diketahui, di sela-sela kehadirannya pada KTT Belt and Road Forum Internasional, Presiden Jokowi melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden RRT Xi Jinping di Gedung Great Hall of the People, Beijing.

Pada kesempatan itu, Presiden Jokowi menegaskan keinginannya untuk memanfaatkan KTT untuk menciptakan momentum segar, terutama untuk kerja sama RRT-Indonesia. Orang nomor satu di Indonesia itu mengundang secara khusus Xi Jinping untuk bekerja sama dengan pemerintah Indonesia di tiga mega proyek.

Ketiga mega proyek yang ditawarkan itu adalah proyek koridor ekonomi terintegrasi, konektivitas, industri, dan pariwisata di Sumatera Utara antara lain fasilitas Pelabuhan Kuala Tanjung dan akses jalan dari Kota Medan hingga Sibolga.

Lalu kesempatan investasi di Sulawesi Utara yang akan meningkatkan infrastruktur di Bitung-Manado-Gorontalo melalui akses jalan, jalur kereta api dan pelabuhan serta bandara, dan investasi proyek energi dan pembangkit listrik di Provinsi Kalimantan Utara.

Pada bagian lain Menko Maritim Luhut Pandjaitan dalam keterangan tertulisnya mengatakan, keterlibatan Indonesia dalam One Belt and One Road Forum for International Cooperation atau yang dikenal dengan sebutan jalur sutra modern yang berlangsung di Beijing, Cina adalah untuk pemerataan pembangunan infrastruktur di Indonesia.

“Kita membawa paket-paket yang bisa ditawarkan, bukan saja untuk Cina. Strategi kita untuk pembangunan berkesinambungan dan seimbang antara Jawa dan luar Jawa, itu yang kita coba tawarkan ke Tiongkok Cina untuk bisa menjadi satu bagian pembangunan secara berkelanjutan,” katanya.

Adapun proyek-proyek yang ditawarkan antara lain di Manado, yang berfokus pada pembukaan konektifitas antar wilayah dan bidang transportasi. “Misalnya di Indonesia Timur Manado, lapangan terbang Manado itu sudah maksimal tidak bisa diperpanjang lagi karena terhambat gunung, sekarang panjangnya 2800 meter. Lalu ada satu area disana yang bisa kita kembangkan lagi jadi ada satu area disana, beberapa ribu hektar yang bisa kita kembangkan.  Gubernurnya sudah menawarkan wilayah itu,” katanya.

Pembukaan pusat transportasi dan akomodasi baru yang dapat menghubungkan Indonesia timur dengan luar negeri juga termasuk dalam proyek yang akan dipaparkan kepada calon penanam modal. “Kami juga berencana membangun rel kereta api dari Gorontalo ke Bitung, sehingga bisa menjadi penghubung di wilayah timur (Indonesia). Bitung itu lokasinya cukup strategis, kalau ditarik garis lurus itu bisa menuju Darwin (di Australia) dan kalau ditarik garis lebih jauh lagi, bisa sampai Jepang,” kata Menko Luhut.

Untuk wilayah Indonesia tengah, ada beberapa penawaran seperti pembangunan PLTA. “Di wilayah tengah kita tawarkan hydro power di Kalimantan Utara, disana ada potensi hydropower sebesar 7700 mw mungkin kita tawarkan 3 tahap atau 4 tahap, mimpi kita nanti kita ingin bangun alumunium smelter disana,” jelasnya.

Menurut Luhut, proyek-proyek tersebut tidak hanya berada di wilayah Indonesia Timur, tetapi juga ada yang di Barat seperti pembangunan perpanjangan jalur kereta api dari Kuala Tanjung yang akan disambungkan ke wilayah Danau Toba, Duri, Dumai dan Pekanbaru. Jika investasi bisa terwujud, yang penting adalah kedua negara bisa mendapat keuntungan dan transfer teknologi kepada karyawan lokal merupakan syarat mutlak.

 

Keuntungan RI

Pelabuhan Kuala Tanjung dan akses jalan dari Kota Medan hingga Sibolga juga ditawarkan keTiongkok untuk bekerjasama dalam proyek tersebut

 

Sementara itu, Menteri Perencanaan dan Pembanguna Nasional (PPN/Bappenas) Bambang Brodjonegoro menyebutkan, banyak keuntungan yang didapatkan Indonesia pada saat acara Konferensi Tingkat Tinggi Belt and Road Forum Internasional di Beijing.

Bambang menyebutkan, salah satu keuntungan tersebut yaitu membuat pertumbuhan ekonomi di Indonesia tidak bertumpu di Pulau Jawa, salah satunya dengan adanya investasi langsung dari Tiongkok. Apalagi, Indonesia datang ke gelaran tersebut dengan membawa berbagai persiapan investasi seperti proyek koridor ekonomi terintegrasi, konektivitas, industri, dan pariwisata di Sumatera Utara antara lain fasilitas Pelabuhan Kuala Tanjung dan akses jalan dari Kota Medan hingga Sibolga.

Lalu kesempatan investasi di Sulawesi Utara yang akan meningkatkan infrastruktur di Bitung-Manado-Gorontalo melalui akses jalan, jalur kereta api dan pelabuhan serta bandara, dan investasi proyek energi dan pembangkit listrik di Provinsi Kalimantan Utara.

“Jadi kita tentunya datang dengan persiapan yang matang, yaitu kita fokus dengan mendorong investasi China ke wilayah di luar Jawa, jadi yang kita tawarkan secara garis besar kita ingin mengimbangi pertumbuhan ekonomi Jawa dengan luar Jawa, luar Jawa yang harus didorong lebih cepat, untuk mendorong lebih cepat dibutuhkan investasi dalam jumlah besar, kalau investasi yang sekarang tidak memadai maka cari sumber yang baru, karena itu kita dorong ada investasi China yang masuk di luar Jawa, terutama di daerah yang relevan dengan belt and road. Karena tidak semua wilayah Indonesia itu dianggap bagian Belt and Road itu,” kata Bambang kepada wartawan di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Keuntungan yang lain, kata Bambang, terjadi kesepakatan investasi di sektor infrastruktur yang tingkat pengembaliannya cepat, baik swasta dengan swasta, maupun swasta dengan BUMN. Namun, dalam acara tersebut tidak membahas mengenai kerja sama perdagangan.

“Jadi misalnya kemarin bersama Kepala BKPM bertemu dengan perusahaan yang tertarik smelter, smelterya dia bisa beberapa macam, bisa bauksit, tembaga, atau emas, terus saya ketemu perusahaan dengan e-commerce maksudnya mengembangkan e-commerce di Indonesia, pembangkit listrik juga, saya lihat mereka mau investasi, jadi bukan jualan barang seperti ekspor impor pada umumnya,” katanya.

Salah satu investasi yang sudah disepakati, mengenai pengembangan kawasan pariwisata di Morotai, yakni PT Jababeka dengan perusahaan hotel asal Tiongkok. Keuntungan lainnya, mengenai pencairan dana pinjaman proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung oleh China Development Bank (CDB).

“Itu officialy sudah cair dari CDB, saya enggak ingat berapa, saya kan bukan juru bicara pemerintah, dan ini kan pinjaman swasta, makanya saya tidak urusin, karena kan saya urusi hanya pinjaman pemerintah, itu yang kereta cepat diklarifikasi bahwa itu pinjaman swasta, ingat proyek kereta cepat itu tidak ada baik jaminan apapun, dan di Bappenas pun urusannya tidak lewat sini,” jelasnya.

Dengan terciptanya beberapa kesepakatan investasi, Bambang mengungkapkan, pemerintah akan memberikan jaminan kemudahan perizinan sebagai bentuk fasilitas kerjasama investasi. Namun, Bambang mengingatkan, kepada para investor untuk mematuhi aturan yang berlaku di Indonesia, khususnya mengenai aturan ketenagakerjaan.

“Itu kemarin saya tanya khusus dan mereka memberikan jaminan bahwa tenaga kerja itu ada banyak ketika konstruksi, karena mereka ingin cepat mengerjakan proyeknya, setelah itu mereka temporer, mereka akan kembali ke negaranya, dan ketika sudah operasi mereka lebih senang pakai yang lokal, jadi hanya pada akhir konstruksi ketika mereka ingin penyelesaian mereka ingincepat nah itu mungkin tenaga kerja asingnya lebih banyak pada biasanya, tetapi setelah itu mereka pulang, operasi dari pabrik sudah ditangani tenaga lokal,” katanya.  (fan, dtc, lpe,mas)

Tags: