Meraih Guru Besar Unair ke-456 Berkat Akupuntur

Prof. Dr. drh. R Tatang Santanu Adikara MS saat berorasi di aula Garuda Mukti gedung manajemen Unair, Rabu (24/5/2017).

 

Prof. Dr. R Tatang Santanu Adikara MS., MS., TOT. Akp., drh, dikukuhkan sebagai guru besar ke-456 Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Guru besar ke-164 sejak Unair berstatus PTN-BH ini menggunakan metode akupuntur yang dipadukan dengan sentuhan teknologi modern yang menjadi salah satu penemuan besar bersama sejumlah rekan-rekannya di dunia kedokteran hewan.

 

Oleh: F. Al Aziz, SURABAYA

 

DALAM ringkasan orasi ilmiah berjudul “Peran Akupuntur dalam Ilmu Anatomi dan Kesejahteraan Masyarakat”, Prof Tatang –demikian ia biasa disapa—mengungkapkan, berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi berdampak pada penelitian titik dan meridian akupuntur. Ditemukannya bahan radioaktif teknisium pertehnektat menjadi awal khazanah baru tentang akupuntur.

“Ini juga mengubah pola berpikir masyarakat yang berpendapat klasik (tentang akupuntur) menjadi lebih modern bahwa di permukaan tubuh makhluk hidup (hewan dan manusia), terdapat jalur dan tombol-tombol energi yang berhubungan dengan organ dalam lainnya,” ungkap Guru Besar Ilmu Anatomi Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Unair ini.

Lebih lanjut, pria kelahiran Bangkalan Madura ini mengungkapkan penelitian akupuntur modern mulai berkembang secara pesat pada era 1990-an. “Ditemukannya hubungan antara jalur meridian dan titik akupuntur dengan organ target, membuka peluang perkembangan baru dalam bidang ilmu anatomi,” ungkapnya.

Nah, melalui serangkaian penelitian, titik akupuntur yang merupakan titik energi pada makhluk hidup terbukti mempengaruhi kapasitas kerja organ tubuh. Titik akupuntur merupakan starting point timbulnya energi jika dilakukan rangsangan. “Rangsangan dilakukan dengan cara invasif dan non- invasif,” papar pria yang juga guru akupresure dan bekam Yayasan Haji Muhammad Chenghoo ini.

Lebih lanjut, disebut invasif kalau dilakukan penusukan fisik seperti menggunakan jarum. Sedangkan non-invasif jika dilakukan tanpa penusukan fisik atau alat lain yang tidak menusuk jaringan. Salah satunya dengan menggunakan soft laser yang dosisnya sudah disesuaikan. Terkait soft laser ini, Tatang mengakui telah mengembangkan laserpunktur ciptaan bersama dengan rekan-rekannya.

“Insya Allah, kita akan segera patenkan,” ucap Tatang sebelum dirinya dikukuhkan. Menurut Tatang, alat stimulasi pengganti jarum yang diaplikasi pada hewan ternak adalah soft laser (helium neon dan semi konduktor).

Staf pengajar Unair yang pada tahun 2004 mendapatkan penghargaan Satya Lancana Karya Satya dari Presiden RI tahun 2004 ini mengatakan, penggunaan soft-laser sebagai pengganti jarum dalam teknik akupuntur yang diterapkan pada sejumlah titik akupuntur ternyata memberikan hasil yang memuaskan. Ternyata rangsangan energi dengan menggunakan soft laser yang diberikan pada titik-titik akupuntur lebih terukur  jika dibandingkan dengan jarum karena laser memiliki ketepatan yam akurat dalam pemberian dosis. “Selain itu waktunya amat singkat atau dalam hitungan detik. Sedangkan jarum dosisnya tidak terukur dan waktunya cukup lama,” papar Tatang.

Selama ini, menurut Prof Tatang, penggunaan metode akupuntur yang memakai laser atau disebutnya laserpunktur, pada hewan, justru memberikan hasil yang menggembirakan. Tak heran laserpunktur ini dalam penelitian terapan sudah digunakan untuk peningkatan kesehatan hewan, peningkatan produktivitas berat badan atau pertumbuhan produksi susu.

“Bahkan laserpunktur digunakan juga untuk peningkatan stamina hewan-hewan pacu dan aduan, peningkatan telur pada produksi unggas-ikan-kepiting, bahkan juga untuk meningkatkan hormon reproduksi,” terang Doktor Biologi dari IPB Bogor tahun 1986.

Bukan sekadar riset di atas kertas, penelitian Prof Tatang telah dibuktikannya melalui uji coba di sejumlah ponpes di Madura. Di salah satu ponpes di Modung Tanah Merah, Bangkalan, metode laserpunktur ini berhasil melakukan program penggemukan ternak milik masyarakat. Selain itu, penelitian juga terbukti sukses dalam program penggemukan sapi potong di ponpes Darut Tauhid, Ngalah, Purwosari dan Ponpes Al Amin Prenduan, Sumenep.

Tatang mengatakan teknologi akupuntur memiliki peranan dalam melakukan proses rekayasa biologi untuk mendapatkan ternak unggulan asli Indonesia. Dalam penelitian di lapangan, Tatang  mendapati sapi Madura jantan berat badannya bisa mencapai 715 kilogram dengan peningkatan 0,9-1 kilogram per hari. “Tentunya juga melalui seleksi dan manajemen pakan yang baik,” kata Tatang.

Ke depan, kata pria yang pernah jadi pokja pendiri Batra Unair ini, teknologi akupuntur pada ternak adalah mempersiapkan jenis-jenis unggulan sapi ras Indonesia. Tentu saja ini membutuhkan waktu yang tidak singkat sebab bisa memakan waktu puluhan tahun. “Tetapi demi menjaga plasma nutfah ternak Indonesia, agar kita tidak tergantung ternak impor, mulai sekarang sudah sepatutnya diterapkan,” tutur bapak tiga anak ini.

Rektor Unair Prof Dr Mochammad Nasih sendiri berpesan agar Prof Tatang terus mengembangkan penelitiannya. “Jangan berhenti setelah memberikan orasi, penelitian-penelitian tetap harus berlanjut,” pesan Nasih.

 

Pakar Pengobatan Holistik

Selain dikenal di dunia kedokteran hewan, Prof Tatang juga dikenal sebagai instruktur bagi para praktisi akupuntur. Ia selalu membawa ‘trademark’ penerapan pengobatan holistik.

Menurut Prof Tatang, pengobatan holistik  merupakan pengobatan yang bersifat menyeluruh baik di dalam melakukan suatu pengamatan kesehatan secara seksama kepada pasien maupun melakukan sesuatu pengobatan atau penyehatan. “Artinya, kalau kita mendapatkan keluhan dari pasien tentunya kita harus mencermati keluhan-keluhan utama, kemudian keluhan keluhan yang mendukung keluhan awal. Karena itu berkesinambungan. Sehingga kita bisa menemukan penyebab utama apa yang pasien keluhkan,” ujar penasihat klinik holistic Surabaya mulai tahun 2004-2010 ini.

Menurutnya, dalam proses penyembuhan holistik, semua jadi efisien karena sakitnya justru tidak terlalu dilihat. Misalkan kalau sakit ginjal, ginjal saja terus yang jadi konsentrasi perhatian. Semuanya merupakan lingkaran yang akan kita ambil penyebab utamanya.

“Kalau sudah menemukan penyebab utamanya, penyebab utamanya disembuhkan yang lainnya akan ikut sembuh. Inilah efisiensinya,” kata Prof Tatang yang menjelaskan pengobatan holistik ini memiliki dasar filosofi Yin Yang.

Lalu apa perbedaan penyembuhan holistik dengan pengobatan di dunia kedokteran? Tatang menyatakan, tidak ada perbedaan yang mendasar. Hanya yang berbeda adalah pertama, anggapan terhadap pasien. “Kalau dalam penyembuhan holistik, pasien itu kastamer, jadi bukan objek untuk diobati tapi sebagai kastamer, sahabat yang perlu kita dekati, kita cari tahu kenapa, masalah apa yang dihadapi. Kedua, lebih banyak menggunakan nutrisi atau kalau dalam istilah kedokteran barat disebut obat. Pasien yang sakit atau lemah karena ada nutrisi yang kurang,” ujar Tatang. (sumber : global news)

Tags: